Memahami Jenis-jenis Adaptasi Hewan dan Seleksi Alam - IPA MTs

ADAPTASI DAN SELEKSI ALAM

Bismillahirrahmaanirrahiim

Coba kalian perhatikan pohon atau tumbuhan di rumah kalian. Apa yang terjadi bila sedang musim kemarau. Yupz betul, tanaman tersebut menggugurkan daunnya dan daunnya terlihat menguning serta rantingnya mengering.

Sekarang perhatikan bila musim hujan dimana air melimpah.  Yups betul lagi, daunnya tumbuh kembali dan warnanya juga hijau sehingga enak untuk dipandang serta rantingnya juga berwarna hijau.

Apa kalian mengetahui kenapa saat kemarau, tumbuhan menggugurkan daunnya?. Tumbuhan menggugurkan daunnya karena untuk mengurangi kehilangan air yang menguap akibat panas matahari. Air bagi tumbuhan sangat penting karena merupakan bahan pembentuk makanan melalui fotosintesis.

Oleh karena itu, pengguguran daun harus dilakukan agar tumbuhan dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupannya. Nanti ketika musim hujan datang sehingga air melimpah, maka tumbuhan akan menumbuhkan kembali daunnya.

Kemampuan tumbuhan menggugurkan daunnya ketika intensitas panas yang tinggi merupakan kemampuan adaptasinya terhadap lingkungan sekitarnya. Selain tumbuhan, mahluk hidup lainnya juga seperti hewan juga melakukan adaptasi terhadap lingkungannya agar dapat terus melangsungkan kehidupannya dan tidak punah.

Postingan kali ini, akan menjelaskan adaptasi mahluk hidup. Selain itu juga membahas tentang seleksi alam. jadi baca dengan tuntas, mudah-mudahan pengetahuan dan pemahaman kalian bertambah.

Adaptasi Mahluk Hidup

A. Definisi dan Tujuan Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan mahluk hidup menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Baik buruknya kemampuan adaptasinya bergantung kepada fenotip individunya. Fenotip individu dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan interaksi antar gen dan lingkungan.

Faktor genetik merupakan fenotip yang diperoleh dari gen yang diturunkan oleh induknya. Bila induknya memiliki kemampuan adaptasi yang baik, maka keturunannya juga dapat mempunyai kemampuan adaptasi yang baik pula kecuali ada faktor-faktor lain seperti perubahan materi genetik atau mutasi gen.

Faktor lingkungan merupakan kondisi di luar tubuh individu seperti makanan yang dimakannya, cuaca, sosial dan lain-lain. Faktor lingkungan ini akan mempengaruhi kemampuan adaptasi suatu individu. Contohnya : jika asupan makanan dan air tercukupi maka kemampuan adaptasinya akan baik.

Tujuan suatu individu beradaptasi dengan lingkungannya yang utama adalah untuk bertahan hidup sehingga individu tersebut dapat terus melangsungkan kehidupannya dan melanjutkan keturunannya, seperti komodo yang dapat bertahan sampai sekarang.

B. Jenis Adaptasi

1. Adaptasi Morfologi

bentuk paruh berbeda pada unggas sebagai adaptasi morfologi

Adaptasi morfologi adalah kemampuan mahluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui perubahan bentuk atau alat-alat tubuhnya. Perubahan bentuk tubuh untuk dapat beradaptasi memerlukan waktu yang lama.

Pada hewan adaptasi morfologi dapat dilihat pada bentuk paruh burung atau unggas yang berbeda, menyesuaikan dengan jenis makanannya, seperti burung kolibri yang memakan madu dari bunga tumbuhan, maka bentuk paruhnya panjang, kecil dan runcing. Hal tersebut agar burung kolibri dapat dengan mudah mengambil madu. Coba kalian perhatikan bentuk paruh ayam dan bebek..buatlah deskripsi bentuk paruhnya dan jenis makannya apa..berikan pendapat kalian di kolom komentar..

Bentuk kaki dan kuku burung atau hewan lainnya juga berbeda, menyesuaikan diri dengan cara hidup dan bagaimana hewan tersebut mencari makanannya. Contohnya adalah kucing dan kambing. Kucing yang memakan daging maka kakinya dilengkapi dengan kuku yang tajam untuk mencengkram mangsanya, sedangkan kambing yang merupakan pemakan tumbuhan, kakinya dilengkapi dengan kukunya tebal dan besar sehingga dapat berlari kencang dan tahan lama.

Tipe mulut serangga juga berbeda karena menyesuaikan dengan cara hidupnya dan nencari makanannya. Coba perhatikan mulut nyamuk dan semut, apakah sama atau berbeda dan bagaimana mereka mencari makan.

Selain itu, perhatikan bentuk gigi pada hewan herbivora, karnivora dan omnivora. Pada hewan herbivora, giginya terdiri dari gigi seri dan geraham karena tujuannya untuk memotong tumbuhan dan mengunyahnya. Hewan karnivora hanya memiliki gigi taring saja karena memakan daging. Adapun hewan omnivora memiliki tiga jenis gigi yaitu gigi seri, taring dan geraham, karena hewan tersebut memakan segalam macam makanan baik tumbuhan dan daging.

Hewan juga dilengkapi dengan warna atau jenis bulu atau rambut yang berbeda, bergantung habitat atau tempat hewan tersebut tinggal. Hewan yang tinggal di habitat dingin biasanya memiliki bulu yang lebat dan tebal karena berguna untuk mengatasi cuaca dingin sehingga hewan tersebut tidak banyak kehilangan panas tubuhnya yang dapat menyebabkan hipotermia.

Selain hewan, tumbuhan juga dapat beradaptasi dengan secara morfologi. Coba kalian perhatikan tumbuhan yang hidup di daerah kering (xerofit), daerah yang airnya melimpah (hidrofit) dan daerah yang lembab (higrofit).

Tumbuhan xerofit (tumbuhan yang hidup di daerah kering dengan air yang sangat sedikit seperti gurun) beradaptasi dengan cara memiliki akar panjang yang berguna untuk mencari sumber air, daun seperti duri dengan stomata yang sedikit yang tertutup bulu dan seluruh tubuhnya dilapisi lilin sehingga berguna untuk mengurangi penguapan air, serta memiliki penyimpanan air dalam batangnya. Contoh tumbuhannya adalah kaktus.

Tumbuhan hidrofit merupan tumbuhan yang tinggal di air. Tumbuhan ini memiliki akar bercabang, pendek, tangkai daun berongga dan stomata yang banyak di permukaan atas daunnya. Contohnya eceng gondok.

Adapun tumbuhan higrofit adalah tumbuhan yang tinggal di daerah lembab di mana kandungan uap air di daerah tersebut banyak. Tumbuhan higrofit memiliki daun banyak dengan stomata yang juga banyak, bentuknya lebar dan tipis serta sering melakukan gutasi atau mengeluarkan air di ujung daunnya.

2. Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah kemampuan mahluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya melalui fungsi kerja organ tubuhnya. Adaptasi fisiologi sulit diamati secara langsung seperti adaptasi morfologi dan tingkahlaku.

Berikut beberapa contoh dari adaptasi fisiologi :

  • Jumlah sel darah merah manusia yang hidup di dataran tinggi lebih banyak dari yang hidup di daerah dataran rendah. Hal tersebut sebagai adaptasi manusia dalam memenuhi kebutuhan oksigen, karena daerah dataran tinggi kandungan oksigennya makin sedikit sehingga dibutuhkan sel darah merah yang banyak. Sel darah merah mengandung hemoglobin (hb) yang berfungsi untuk mengikat oksigen dalam darah.
  • Osmoregulasi pada ikan air tawar dan ikan air laut. Osmoregulasi merupakan pengaturan peristiwa osmosis dalam tubuh. Adapun osmosis yaitu perpindahan cairan dari larutan yang berkonsentrasi rendah (encer/hipotonik) ke larutan yang berkonsentrasi tinggi (pekat/hipertonik) melalui selaput semipermeable, Osmoregulasi dalam tubuh dilakukan dengan menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme.  Adaptasi ikan yang hidup di air tawar melalui osmoregulasi dikerjakan dengan sedikit minum dan banyak mengeluarkan urin yang tidak pekat (hipotonik). Hal tersebut terjadi karena tubuh ikan memiliki garam dalam tubuhnya sehingga air dari lingkungannya banyak masuk ke dalam tubuhnya supaya konsentrasi cairan dalam tubuhnya tetap sama (isotonik) maka ikan akan minum air sedikit tetapi mengeluarkan urin dengan jumlah banyak. Adapun ikan yang hidup di laut, adaptasi dengan lingkungannya yang banyak mengandung garam, pengaturan osmosisnya lakukan dengan banyak minum air dan dan sedikit mengeluarkan urin yang pekat (hipertonik).
  • Pada hewan pemakan tumbuhan (herbivora) maupun rayap, di dalam tubuhnya terdapat enzim selulosa sebagai bentuk adaptasi dengan makanannya. Enzin selulosa berguna untuk mencerna tumbuhan.
  • Berkeringat setelah aktivitas dan banyak mengeluarkan urin saat dingin pada manusia. Adaptasi fisiologi tersebut bertujuan untuk mengurangi panas tubuh yang berlebih akibat dari metabolisme yang meningkat saat aktivitas dan cuaca dingin.

3. Adaptasi Tingkah Laku

mimikri, autotomi, paus muncul di permukaan adalah contoh adaptasi tingkah laku hewan
Contoh Adaptasi Tingkah Laku Hewan

Mahluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya dilakukan dengan mengubah tingkah lakunya. Perubahan tingkah laku bertujuan untuk menyeimbangkan kondisinya dengan lingkungannya maupun mendapatkan zat yang berguna bagi tubuhnya serta melindungi dirinya dari pemangsa (predator).

Contoh adaptasi tingkah laku antara lain:

  • Tumbuhan yang menggugurkan daunnya saat musim kemarau. Saat musin kemarau, maka intensitas panas matahari meningkat sehingga penguapan air juga meningkat. Oleh karena itu agar jumlah air dalam tubuhnya seimbang maka tumbuhan akan menggugurkan daunnya untuk mengurangi hilangnya air dalam tubuhnya karena daun banyak mengandung stomata yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya gas termasuk uap air.
  • Tumbuhan melakukan gutasi atau keluarnya air dari ujung daun. Gutasi ini bertujuan untuk mengurangi kelebihan air, biasanya dikerjakan oleh tumbuhan yang tinggal di lingkungan yang banyak kandungan airnya.
  • Rayap dewasa memakan kembali kulitnya yang terkelupas untuk mendapatkan flagellata, begitu juga dengan rayap yang beru menetas akan menjilati dubur rayap dewasa untuk mendapatkan flagellata. Flagellata ini menghasilkan enzim selulase yang berguna untuk mencerna selulosa.
  • Paus maupun lumba-lumba yang secara teratur muncul ke permukaan air laut untuk menghirup oksigen dan mengeluarkan udara pernafasan.
  • Hibernasi oleh beruang. Hibernasi dikerjakan dengan tidur yang panjang pada musim dingin untuk menghemat energi karena sumber pangan yang terbatas pada musim dingin.
  • Mimikri pada bunglon atau belalang. Mimikri ini merupakan kemampuan adaptasi dengan mengubah warna tubuh atau bentuk tubuh seperti lingkungannya sehingga terhidar dari predatornya.
  • Autotami pada cicak dan kadal. Autotami dilakukan dengan memutuskan bagian tubuhnya atau ekornya untuk menghindarkan diri dari bahaya yang mengancamnya.

Seleksi Alam

Faktor berikutnya yang mempengaruhi kelangsungan mahluk hidup, selain adaptasi, adalah seleksi alam. Seleksi alam berkaitan dengan kondisi lingkungan atau geografinya sehingga menentukan mana mahluk hidup yang bertahan dan mana yang akan punah. Mahluk hidup yang mampu beradaptasi dengan kondisi alam, maka dia yang akan bertahan. Sedangkan yang tidak dapat beradaptasi maka dia akan punah.

Contoh dari seleksi alam antara lain :

  • Variasi ngengat Biston betularia pada masa revolusi industri di Inggris. Sebelum revolusi industri, jumlah ngengat berwaran putih susu berbintik hitam lebih banyak dari pada berwarna hitam. Tetapi setelah revolusi industri, jumlah ngengat yang berwarna hitam lebih banyak. Hal tersebut karena pada saat revolusi industri, udara tercemar dengan asap dari kegiatan industri sehingga ngengat putih lebih terlihat dari ngengat hitam sehingga ngengat putih dapat dengan mudah dimangsa oleh predatornya.
  • Adanya variasi burung FInch di kepulauan Galapagos yang berasail dari daratan Ekuador di Amerika Selatan.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa kemampuan adaptasi dapat menentukan keberlangsungan mahluk hidup di alam ini. Mereka yang mampu beradaptasi dapat melangsungkan hidupnya. Mereka beradaptasi dengan apa yang mereka miliki seperti tubuh dan kemampuan mereka.

Demikian pembahasan tentang adaptasi dan seleksi alam. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kalian dan menambah wawasan dan referensi bahan bacaan kalian.


Baca juga :

Reproduksi Tumbuhan Berbiji - IPA MTs

Reproduksi Tumbuhan Paku dan Lumut

Cara Penyebaran Biji Tumbuhan

Reproduksi dan Siklus Hidup Hewan