Meraih Kebahagiaan Sebenarnya

KISAH INSPIRATIF : MERAIH KEBAHAGIAAN SEBENARNYA

memberi orang lain, bermanfaat bagi orang lain, bermakna bagi orang lain
sumber : dero.ngawikab.id

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ada seorang teman yang bercerita kepadaku tentang kisah hidupnya. Dia sewaktu usia SMP termasuk anak yang sering main keluar malam bersama-sama dengan teman-temannya. Bercanda, menyanyi sambil bermain gitar dan kadang diselingi merokok, padahal usia segitu kurang pantas.

Hampir setiap malam selepas isya, kegiatannya seperti itu. Adapun melaksanakan tugas sebagai pelajar mah sering diabaikan. Ketika suatu malam tiba-tiba  dia tersadar dan mulai memperhatikan apa yg dikerjakannya selama ini.

"Apa yg saya dapat dari kayak gini terus. Hampir tiap malam saya nongkrong, gitar-gitaran, kumpul ga jelas, tapi hati ttp saja gelisah. Senang hanya sesaat".

Akhirnya dia memutuskan untuk tidak keluar malam lagi, lebih banyak bersama keluarga dan menonton tv. Kalau belajar masih sering diabaikan.

Baca juga artikel bermanfaat lainnya:

Ambil keputusan sendiri untuk hidupmu

Apa tujuan saya sekolah

Kemudian dia masuk ke jenjang SMA. Dia dapat berhasil diterima di salah satu sekolah unggulan di kotanya.

Dia bersekolah seperti biasanya, berangkat pagi pulang siang. Malam harinya dia lebih banyak di rumah. Sampai ketika dia kelas 3 dia merasakan kembali kegelisahan.

"Ko saya kayak gini. Datang ke sekolah, lalu duduk, diam mendengarkan guru mengajar lalu pulang. Sebenarnya buat apa saya sekolah, buat apa saya belajar biologi, fisika, kimia, matematika dan pelajaran lainnya. Apa manfaatnya buat saya ketika saya bekerja nanti?" Pikiran itu yg sering menghampirinya.

Dia ga pernah menceritakan kegelisahannya kepada orang tuanya atau temannya karena dia termasuk introvert. Dia berusaha mencari jawabannya sendiri dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Walaupun sering jawabannya tidak pas dengan pertanyaan sehingga hatinya masih gelisah.

Setelah lulus SMA dengan pertanyaan yang belum diperoleh jawaban yang memuaskan hatinya, dia melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di luar kota.

Ternyata di tahun pertama kuliah, pertanyaan itu muncul kembali bahkan ditambah dengan pertanyaan baru lagi yang membuatnya tambah gelisah.

"Sebenarnya apa sih yg saya butuhkan, apa sih sebenarnya tujuan hidup saya. Kenapa saya ga jelas seperti ini?".

Berhari-hari, berbulan-bulan dia berusaha mencari jawaban yang dapat menenangkan hatinya sehingga pertanyaan itu tidak muncul kembali. Kemudian dia banyak membaca buku agama maupun buku umum dengan harapan dapat memperoleh jawabannya, tetapi ternyata tidak jua memperoleh jawaban yang menenangkan hatinya.

"Selama ini, saya lakuin ini itu tidak bahagia walaupun saya dapat tertawa tetapi saya tidak merasakan kebahagiaan. Apa mungkin tujuan dan kebutuhan sebenarnya seseorang adalah kebahagiaan?". Itu jawaban sementara yg ada dipikirannya tetapi itu belum meyakinkannya.

Berhari-dia melakukan mengamati apa yg sdh atau sedang dikerjakannya atau mengamati apa yg dikerjakan org lain sambil melihat raut mukanya. Sampai suatu ketika dia memperoleh keyakinan dari jawaban sementaranya. "Ternyata seseorang melakukan sesuatu itu karena dia ingin bahagia. Jadi kebahagiaan itu adalah kebutuhan dasar setiap orang. Lantas apa yg dapat saya kerjakan agar saya bahagia?"

Kemudian dia mulai melakukan kegiatan yang menurutnya baik seperti membantu teman, senyum kepada tetangga kos nya, berbuat baik kpd ayah ibunya yg selama ini diabaikannya dan hal hal kecil lainnya. Ternyata hal-hal seperti itu yang membuatnya bahagia dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya tidak muncul sehingga dia menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu dapat diraih bila SESEORANG DAPAT BERMAKNA BAGI ORANG LAIN.

Itulah cerita singkat yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan mengajarkan kita hal baik seperti berusaha memperhatikan apa yang sudah dikerjakan,  memperhatikan apa yg orang lain kerjakan, tidak mengabaikan hati sendiri, memenuhi kebutuhan hati, berbuat baik kepada orang lain, berbakti kepada ayah ibu dan bersyukur atas kebaikan mereka selama ini, karena kebahagiaan sebenarnya tidak diperoleh melalui banyaknya harta, ilmu dan kedudukan tetapi diperoleh melalui banyaknya rasa syukur atas apa yang sudah diraih dan berbuat baik kepada orang lain semampu yang dapat dilakukan.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi yang membacanya sehingga mampu meraih kebahagiaan sebenarnya dalam hidupnya.

Baca artikel bermanfaat lainnya:

Dilema pendidikan di tengah wabah covid 19

Membuat blog dan artikel agar sesuai adsense