Ambil Keputusan Sendiri untuk Hidupmu - IPA MTs

AMBIL KEPUTUSAN SENDIRI UNTUK HIDUPMU | SEBUAH KISAH

belajar ambil keputusan sendiri untuk hidupmu

Prolog

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita dari seorang teman. Beliau adalah seorang pengajar di salah satu sekolah tingkat SMP/MTs. Dia sudah lama berprofesi sebagai guru, sehingga pengalamannya banyak. Bahkan banyak peserta didiknya yang meminta saran kepadanya, dari masalah keluarga, sekolah sampai pertemanan, juga agama. Jadi saya tertarik membagikannya kepada kalian beberapa pengalamannya.

Mudah-mudahan kisah pengalamannya dapat menambah wawasan pembaca setia Blog IPA MTs tentang beberapa permasalahan yang mungkin pernah dialami, sehingga dapat dijadikannya salah satu referensi dalam penyelesaian masalah.

Kisah 1

Suatu hari di sekolahnya kedatangan beberapa mahasiswa yang akan melaksanakan praktik mengajar di lapangan atau disebut PPL dari salah satu perguruan tinggi Islam. Beberapa dari mereka dari jurusan Pendidikan Biologi, lalu dia ditunjuk oleh kepala sekolah untuk menjadi guru pamongnya.

Setelah pembagian guru pamong, salah satu mahasiswa PPL datang ke dia untuk bimbingan penyusunan RPP yang akan dipakai saat dia mengajar di kelas. Sebelum dia memeriksa RPP nya dia bertanya satu hal kepada mahasiswa tersebut. "Apa kau yakin ingin menjadi guru ?" tanyanya. Dia pikir itu jawaban mudah, tetapi bukannya menjawab pertanyaan malah mahasiswanya terdiam lalu menundukkan kepalanya. Dia terus memperhatikan sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya.

Beberapa saat kemudian mahasiswanya menjawab dengan perlahan. "sebenarnya saya tidak yakin pak, karena saya kuliah ini karena keinginan orang tua yang menginginkan saya menjadi guru, makanya saya di sekolahkan di keguruan".

"Sekarang kan kau kuliah di keguruan, apa kau akan setengah hati kuliah atau bersungguh-sungguh ?" Dia kembali bertanya. "tidak tahu, saya jalani saja" mahasiswanya kembali menjawab dengan nada suara pelan.

Baca juga :

Fazilla Chapter 1 : Permulaan yang bagus

Kisah 2

Suatu hari dia kedatangan salah seorang alumni. Alumni tersebut bercerita "Pak, saya tuh bingung, saya dah diterima kuliah di universitas negeri, tetapi orang tua saya minta pindah kuliah karena biayanya mahal. Kira-kira menurut bapak bagaimana?."

Dia terdiam sambil menarik nafas sejenak, kemudian dia berkata "saya tidak bisa menyuruh kamu untuk mengambil keputusan, tapi saya akan bercerita pengalaman pribadi saya, entah ini nyambung dengan permasalahanmu atau tidak." 

Lalu dia mulai bercerita "Ketika saya lulus SMA, saya berharap akan langsung cari kerja saja, karena saya ingin orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya buntuk kuliah dan saya juga bosan dengan pembelajaran di sekolah. Tetapi ternyata orang tua saya memiliki harapan agar saya kuliah. Setelah mengetahui hal tersebut, saya mengalami kebimbangan selama berhari-hari. Apakah saya akan mengikuti keinginan saya sendiri ataukah mengikuti keinginan orang tua. Berhari-hari pula saya berusaha mencari jawaban dari kebimbangan saya. Selepas shalat saya merenung, ya Allah saya harus memilih yang mana? Apakah mengikuti harapan orang tua atau mengikuti keinginan sendiri. Kalau saya mengiikuti keinginan sendiri, saya khawatir orang tua akan kecewa. Tetapi jika saya mengikuti keinginan orang tua saya, pasti hati saya akan terpaksa saat saya kuliah nanti." dia berhenti sejenak.

Lalu dia melanjutkan ceritanya "Kemudian saya dapat ide, supaya saya tidak mengecewakan dan disalahkan oleh orang tua saya, saya akan ikut ujian masuk perguruan tinggi tapi saya akan pilih perguruan tinggi yang favorit supaya saya tidak diterima, jadi saya punya alasan. Akhirnya saya jalankan skenario tersebut. Saya ikut daftar UMPTN lalu saya pilih PTN yang bagus supaya saya tidak diterima. Saya mulai mendaftar lalu ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri, tapi ternyata Tuhan berkehendak tidak sesuai rencana saya. Saya diterima di salah satu perguruan tinggi tersebut." 

"Mulailah saya berkuliah, tapi saya punya tujuan lain, yaitu tahun depan saya akan minta pindah kuliah. Hari demi hari saya menjalani kuliah dengan harapan tahun depan saya akan pindah ke perguruan tinggi lain. Setelah beberapa bulan kuliah, saya tiba-tiba merasa iba kepada ayah dan ibu saya karena sudah mengeluarkan biaya yang begitu banyak untuk menyekolahkan saya sampai kuliah ini. Karena rasa ga enak dan iba kepada ayah dan ibu saya itulah saya tetap bertahan dan berusaha menikmati perkuliahan sampai lulus. Ternyata berkahnya saya rasakan sekarang ini, kau tahu kan?. Sekarang saya sudah menjadi guru dan menjadi PNS. Sebuah pekerjaan yang banyak diidamkan oleh banyak orang, hehehe..bukannya pamer atau sombong ya".

Baca juga :

Keluh yang tak bersua

Pandangan Penulis

Jika diperhatikan, kedua kisah di atas memiliki persamaan masalah dari dua orang yang berbeda. Permasalahan tersebut adalah apakah mengikuti keinginan orang tua atau mengikuti keinginan sendiri.

Permasalahan tersebut mungkin pernah juga dialami oleh pembaca setia blog IPA MTs. Sebuah permasalahan yang membuat bingung, hati gelisah, kepala sakit bahkan membuat malas dalam melakukan sesuatu sehingga efeknya kembali kepada masa depan sendiri.

Apakah ada solusi yang diberikan dan terdapat di dalam kisah tersebut?. Jawabannya ada. Lihat di Kalimat akhir pada kisah 2. Entah teman saya sadar atau tidak, dia memilih mengikuti keinginan dan harapan kedua orang tuanya dan berusaha menikmati prosesnya. Entah apa yang dikerjakannya sehingga dia dapat menikmati prosesnya dan berhasil menyelesaikan kuliahnya dan berhasil menjadi guru dengan status PNS. Walaupun dia terlihat mengiktui keinginan orang tuanya, tetapi sebenarnya itu adalah keputusannya sendiri dan komitmen dengan keputusannya. Mungkin itulah yang membuat dia dapat menikmati prosesnya.  

Jadi berdasarkan kisah di atas, sebaiknya seseorang tersebut jika dihadapkan permasalahan yang sama, maka pilihlah untuk mengikuti orang tua atau ayah ibu dengan niat berbakti kepada mereka sebagai rasa syukur kepada kepada meraka. Dalam ajaran agama penulis yakini Islam, Ridho Allah terletak pada ridhonya ayah dan ibu. Tetapi jika ingin melakukan apa yang diinginkan, sebaiknya diskusi dengan ayah dan ibu agar mereka dapat meridhoi apa yang diinginkan.

Baca juga :

Apa tujuan saya sekolah

Meraih kebahagiaan sebenarnya

Penutup

Sekian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan pembaca setia blog IPA MTs dapat mengambil suatu keputusan sendiri, sebuah keputusan terbaik melalui pertimbangan-pertimbangan dan komitmen dalam melakukan hasil keputusannya, serta dapat berkomunikasi dengan baik dengan ayah dan ibunya sehingga mendapatkan ridho dari keduanya.

Baca juga :

Dilema pendidikan di tengah wabah covid19