Sifat fisika dan kimia zat

sifat fisika dan kimia zat

Bismilahirrahmaanirrahiim

Setiap zat atau benda memiliki sifat yang unik dan berbeda dengan zat lainnya. Perbedaan sifat tersebut disebabkan oleh kandungan dan susunan partikel penyusunnya yang berbeda. Adapun partikel penyusun suatu zat disebut atom.

Setiap zat mempunyai jumlah dan jenis atom yang berbeda. Selain itu perbedaan sifat suatu zat juga disebabkan oleh perbedaan ikatan dan struktur atom atau molekul yang menyusun zat tersebut.

Baca juga : Partikel dalam benda dan mahluk hidup.

Sifat suatu zat dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu sifat fisika dan sifat kimia. Sifat fisika adalah sifat yang dapat diamati tanpa mengubah ciri-ciri atau komposisi zat tersebut. Sifat fisika bersifat kuantitatif atau dapat diukur dengan alat ukur atau dihitung dengan rumus tertentu. Sifat fisika tidak berkaitan dengan pembentukan zat baru.

Adapun sifat kimia merupakan sifat yang terdapat pada suatu zat ketika mengalami perubahan atau reaksi menjadi zat lain. Sifat kimia bersifat kualitatif atau tidak dapat diukur.

Apa saja sifat fisika dan kimia pada suatu zat? Nah, artikel sekarang akan menjelaskan sifat fisika dan sifat kimia yang terdapat pada suatu zat.

Pembahasannya berdasarkan keterangan dalam buku siswa IPA SMP/MTs kelas 9 semester 2 yang diterbitkan oleh kemendikbud RI edisi revisi 2018. Tentunya dengan tata bahasa yang dimudahkan agar kamu dapat memahami isi yang dibahas dan ditambahkan dari keterangan laimnya.

Selamat membaca dan relaks saja.

Sifat Fisika Zat

Berikut ini beberapa sifat fisika pada suatu zat :

Kerapatan (Densitas/Massa Jenis)

Kerapatan atau densitas atau juga massa jenis merupakan massa suatu zat yang terdapat pada tiap volume zat tersebut. Massa jenis merupakan ciri khas suatu zat karena besar massa jenis tiap zat berbeda.

Massa jenis dapat dihitung dengan rumus massa benda dibagi volume benda tersebut. Rumusnya dapat dilihat di bawah ini

  • P = m/V
  • m = PxV
  • V = m/P

Keterangan :

  • P = rho atau massa jenis, satuan Kg/m³ atau g/cm³ atau g/ml
  • m = massa benda, satuan Kilogram (Kg) atau gram (g)
  • V = volume benda, satuan m³ atau cm³ atau mililiter (ml)

Apakah kamu pernah lihat balon mainan anak kecil yang dapat terbang? Jika pernah, apakah kamu tahu, kenapa balon tersebut dapat terbang setelah diisi gas tertentu oleh penjual balonnya dan kenapa ketika gas dalam balon habis lalu kamu meniup sendiri balon tetapi balon tersebut tidak dapat terbang, padahal sama-sama diisi gas?.

Gas yang sering digunakan penjual balon mainan untuk mengisi balonnya adalah helium. Gas Helium memiliki massa jenis lebih rendah dari udara. Massa jenis gas Helium yaitu 0,1786 Kg/m³, sedangkan massa jenis udara lebih besar yaitu 1,29 Kg/m³. Oleh karena massa jenis helium yang lebih rendah dari udara, ketika gas Helium dimasukkan ke dalam balon, balon akan terangkat ke atas.

Namun ketika kamu meniup balon sendiri, maka balon tersebut tidak dapat terangkat, karena balon terisi dengan gas karbondioksida dan uap air yang berasal dari proses pernafasan kamu. Gas karbondioksida dan uap air memiliki massa jenis yang lebih besar dari udara. Massa jenis gas karbondioksida adalah 1,98 Kg/m³.

Pemanfaatan benda berdasarkan massa jenisnya dapat kamu lihat juga pada perahu tradisional yang menggunakan bahan baku kayu. Walaupun kayu termasuk benda padat tetapi kayu memiliki massa jenis yang lebih kecil dari air. Massa jenis kayu yaitu sekitar 320-720 Kg/m³ sedangkan massa jenis air sebesar 1000 Kg/m³.

Kekerasan

Kekerasan adalah ukuran keras atau lunaknya suatu zat. Alat ukur yang umum digunakan untuk mengukur kekerasan zat adalah sklerometer. Satuan kekerasan zat yaitu skala Mohs.

Ukuran kekerasan, umumnya digunakan pada zat padat. Zat padat tersusun dari molekul-molekul yang sangat rapat dan memiliki ikatan molekul yang sangat kuat. Tingkat kekerasan tiap zat berbeda.

Berikut ini beberapa contoh tingkat kekerasan beberapa zat.

  • Natrium dan Kalium mempunyai tingkat kekerasa dengan skala 0,5-0,6 Mohs
  • Talk (Mg₃Si₄O₁₀(OH)₂) mempunyai tingkat kekerasan 1 Mohs
  • Timah (Sn) dan grafit (C) mempunyai tingkat kekerasan 1,5 Mohs
  • Kalsium (Ca) mempunyai tingkat kekerasan 2 Mohs
  • Emas (Au), perak (Ag), Alumunium (Al), dan seng (Zn) mempunyai tingkat kekerasan 2,5-3 Mohs
  • Tembaga (Cu) mempunyai tingkat kekerasan 3 Mohs
  • Nikel (Ni) dan besi (Fe) mempunyai tingkat kekerasan 4 Mohs
  • Baja yang merupakan logam campuran dari beberapa unsur mempunyai tingkat kekerasan 4-4,5 Mohs

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa semakin besar nilai tingkat kekerasannya, semakin keras benda tersebut. Penerapan tingkat kekerasan zat dapat kamu lihat pada mata bor, palu, dan alat pemotong seperti gergaji, pisau dan lain-lain.

Elastisitas

Elastisitas merupakan kemampuan suatu zat untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya yang diberikan ke benda tersebut hilang. Gaya dapat berupa tarikan atau dorongan.

Setiap benda mempunyai kemampuan elastisitas termasuk logam. Ketika logam diberikan gaya maka pola geometris susunan atomnya akan mengalami perubahan ukuran dan bentuk. Tetapi bila gayanya dihilangkan maka logam tersebut kembali ke ukuran dan bentuk semula.

Kemampuan elastisitas berbeda pada tiap benda yang berbeda. Zat seperti kayu, es batu dan gelas mempunyai elastisitas rendah sehingga bila zat-zat tersebut diberikan gaya yang besar akan mengalami kerusakan.

Zat yang memiliki elastisitas tinggi seperti karet, ketika diberikan gaya yang besar akan mampu kembali ke ukuran dan bentuk semula. Kemampuan elastisitas karet disebabkan rantai polimer penyusun karet mengalami peregangan. Rantai polimer karet akan kembali ke posisi semula setelah gaya yang bekerja pada karet hilang.

Daya Hantar

Daya hantar merupakan kemampuan suatu zat untuk menghantarkan listrik atau panas. Berdasarkan daya hantarnya, zat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu konduktor, semikonduktor dan isolator.

Konduktor adalah benda yang sangat baik dalam menghantarkan listrik atau panas, contohnya yaitu besi, tembaga, emas dan perak. Kemampuan benda konduktor disebabkan oleh ikatan-ikatan atom penyusunnya mempunyai elektron-elektron yang bergerak bebas. Pergerakan elektron yang bebas membuat logam dapat menghantarkan panas dan listrik dengan mudah.

Baca juga : Benda Penghantar Listrik dan Hambatan Jenis - IPA MTs

Isolator adalah zat yang rendah atau kurang baik dalam menghantarkan panas atau listrik. Rendahnya kemampuan daya hantar benda isolator disebabkan oleh kurang bebasnya elektron dari atom penyusunnya untuk bergerak atau berpindah. Contoh dari isolator antara lain karet, plastik, kayu dan lainnya.

Semikonduktor merupakan benda yang jika berada pada suhu rendah bersifat isolator dan pada suhu tinggi bersifat konduktor. Pergerakan elektron atom penyusun benda semikonduktor dipengaruhi oleh suhu benda tersebut. Contoh benda semikonduktor antara lain silikon dan germanium. Pemanfaatan benda semikonduktor dapat kamu jumpai pada processor komputer atau integrated circuit (IC).

Kemagnetan

Kemagnetan merupakan kemampuan suatu zat untuk dipengaruhi oleh magnet. Berdasarkan sifat kemagnetannya, benda dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu ferromagnetik, paramagnetik dan diamagnetik.

Ferromagnetik adalah benda yang dapat ditarik dengan kuat oleh magnet. Benda ferromagnetik sangat baik untuk dijadikan magnet. Contoh benda ferromagnetik yaitu besi, baja, kobalt dan nikel.

Baca juga : Konsep gaya magnet dan teori dasar kemagnetan bumi - IPA MTs

Paramagnetik adalah benda yang ditarik dengan lemah oleh magnet. Benda yang termasuk paramagnetik antara lain : magnesium, molibdenum dan litium.

Diamagnetik merupakan benda yang tidak dapat ditarik oleh magnet. Benda-benda yang termasuk kelompok diamagnetik yaitu perak, emas, tembaga dan bismut.

Viskositas

Viskositas adalah ukuran kekentalan fluida. Fluida merupakan kelompok zat yang berwujud cair atau gas. Viskositas akan mempengaruhi kemampuan zat mengalir. Semakin besar viskositas zat fluida, semakin sulit zat tersebut mengalir dan semakin sulit zat lain bergerak di dalam fluida.

Viskositas zat cair disebabkan oleh gaya kohesi antar molekul-molekul penyusun zat cair tersebut. Pada zat gas, viskositasnya dipengaruhi oleh tumbukan antara molekul-molekul gasnya.

Setiap benda memiliki viskositas tertentu. Contoh fluida dengan viskositas tinggi adalah madu dan oli. Adapun air merupakan contoh fluida dengan viskositas rendah.

Titik Didih

Titik didih merupakan suhu dimana zat cair berubah menjadi uap pada tekanan tertentu. Suatu zat cair dapat berubah menjadi uap karena tekanan uap lebih besar dari tekanan luar yang menahan zat cair. Contohnya yaitu air yang akan berubah bentuk dari cair ke gas pada suhu 100ºC, maka air tersebut mempunyai titik didih sebesar 100ºC.

Proses perubahan zat cair menjadi gas disebut penguapan. Proses penguapan dapat terjadi ketika zat cair memperoleh kalor atau panas. Ketika air mencapai titik didihnya, air akan berubah wujud menjadi gas dan tidak akan terjadi kenaikan suhu kembali.

Setiap benda cair memiliki titik didih yang berbeda. Salah satu faktor yang mempengaruhi titik didih zat cair adalah viskositas. Semakin besar viskositasnya (semakin kental) maka titik didihnya semakin tinggi. Contohnya air dan minyak, viskositas air lebih rendah dari minyak, maka titik didih air lebih rendah dari minyak. Titik didih air sebesar 100ºC, dan titik didih minyak lebih besar yaitu 150ºC.

Penerapan pengetahuan tentang titik didih sudah dilakukan oleh manusia seperti proses destilasi pada pembuatan bahan bakar dan oli yang berasal dari minyak. Proses destilasi adalah proses pemisahan campuran berdasarkan titik didih dari zat-zat yang terdapat dalam campuran tersebut. Minyak mentah akan diletakkan dalam sebuah wadah kedap udara lalu dipanaskan dengan suhu 370ºC dan tekanan 1 atm. Kandungan minyak mentah tersebut akan terpisah berdasarkan titik didihnya masing-masing. Hasil destilasi pada minyak mentah antara lain gas, bensi, oli, minyak tanah, diesel, lilin dan aspal.

Titik Beku

Titik beku adalah suhu pada tekanan tertentu dimana zat cair berubah menjadi padat. Titik beku juga merupakan suhu terendah dari zat cair yang membuat zat cair tersebut membeku. Contohnya air, ketika suhu 27ºC berwujud zat cair, tetapi saat suhu diturunkan sampai 0ºC akan berubah wujud menjadi padat. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa titik beku air adalah 0ºC.

Baca juga : Trik Mengerjakan Soal Kesetaraan Suhu pada Termometer - IPA MTs

Perubahan wujud zat cair dari bentuk cair ke padat disebut membeku. Pada proses pembekuan zat cair terjadi pelepasan kalor yang terkandung di dalam molekul zat cair tersebut.

Proses pembekuan dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan makanan. Pembekuan bahan makanan membuat bahan makanan tersebut tahan lama karena proses pembusukan makanan yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam bahan makanan terhambat. Pertumbuhan mikroorganisme dapat dihambat, karena kandungan air dalam bahan makanan yang dibekukan menjadi lebih sedikit.

Pada daerah subtropis suhu lingkungan dapat di bawah 0ºC. Suhu yang sangat rendah tersebut dapat membekukan air termasuk cairan pendingin mesin kendaraan sehingga mengakibatkan kerusakan pada mesin kendaraan. Oleh karena itu dibutuhkan zat anti beku yang dapat mempertahankan cairan pendingin kendaraan tetap mempertahankan wujud cairnya meskipun suhu lingkungan sangat rendah.

Zat cair yang digunakan sebagai zat anti beku yaitu senyawa etilen glikol, propilen glikol, dan gliserol. Molekul gliserol dapat membentuk ikatan hidrogen yang kuat dengan molekul air, sehingga titik beku campuran lebih rendah dari pada titik beku air. Campuran tersebut mampu mencegah pembentukan kristal es walaupun suhu turun sampai -37,8ºC.

Hewan yang tinggal di daerah subtropis juga memiliki zat anti beku dalam tubuhnya. Zat anti beku ini berguna untuk menghindari terjadinya pembekuan cairan dalam sel dan jaringan tubuhnyam sehingga hewan tersebut dapat bertahan hidup dalam cuaca ekstrim. Contoh zat anti beku pada hewan yaitu gliserol dan dimetilsulfoksida pada serangga, trehalosa pada cacing nematoda dan porifera, dan protein anti beku "anti freeze protein (AFP)" pada ikan di antartika.

Titik Leleh

Titik leleh adalah suhu pada tekanan tertentu yang membuat zat padat berubah menjadi cair. Titik leleh disebut juga titik lebur. Perubahan wujud zat dari padat menjadi cair disebut mencair atau melebur atau meleleh. Peleburan suatu zat membutuhkan kalor.

Coba perhatikan perubahan wujud es batu menjadi air lalu menjadi uap. Ketika es batu diletakkan dalam suatu wadah dan wadah tersebut diletakkan di udara terbuka atau suhu ruang, sedikit demi sedikit es batu akan melebur menjadi air kemudian air tersebut lambat laun akan menguap sampai air dalam wadah tersebut habis. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa es batu yang berubah menjadi air, maka es batu tersebut menerima kalor dari suhu ruang sehingga mencapai titik leburnya, kemudian air tersebut menguap seluruhnya maka air mencapai titik didihnya.

Setiap benda termasuk logam memiliki titik leleh. Berikut ini titik leleh dari beberapa zat :

  • Alumunium titik lelehnya adalah 660ºC
  • Besi titik lelehnya 1539ºC
  • Magnesium titik lelehnya 650ºC
  • Nikel titik lelehnya 1455ºC
  • Timah titik lelehnya 232ºC
  • Plastik PVC (Polyvinyl Chloride) titik lelehnya 175ºC
  • Plastik HDPE (High Density Polyethylene) titik lelehnya 130ºC
  • Plastik PP (Polypropilene) titik didihnya 160ºC

Sekarang coba perhatikan peralatan masak yang ada di rumah, menurut kamu bahan yang digunakan untuk membuat alat masak tersebut dari apa? Ya, kebanyakan alat masak terbuat dari logam seperti alumunium, besi, stainless steel, dan tembaga, karena logam memiliki titik leleh yang tinggi dan merupakan penghantar panas yang baik. Tetapi dulu, peralatan masak seperti panci banyak dibuat dari alumunium karena alumunium mempunyai titik leleh tinggi, mudah dibentuk, penghantar panas yang baik, ringan dan tidak mudah berkarat serta tidak reaktif.

Sifat Kimia Zat

Setelah membaca sifat-sifat fisika, sekarang lanjutkan untuk membaca sifat-sifat kimia zat. Berikut beberapa sifat kimia dari suatu zat.

Kestabilan

Kestabilan adalah kemampuan suatu zat mempertahankan diri atau dekomposisi di lingkungan alamiahnya atau ketika terkena udara panas, cahaya, tekanan, kondisi alami lain atau akibat adanya reaksi alami yang dapat terjadi pada zat tersebut. Kestabilan juga dapat didefinisikan sebagai mudah atau tidaknya suatu zat rusak.

Zat yang stabil memiliki elektron pada kulit terluar yang sudah berpasangan atau berjumlah 2 dan 8, sehingga sulit bereaksi dengan unsur lain. Contohnya yaitu gas mulia seperti helium, neon, argon, kripton, xenon dan rodon. Jadi, gas mulia tersebut memiliki tingkat kestabilan yang tinggi.

Namun ada juga zat dengan kestabilan rendah seperti plastik atau stirofoam. Di masa sekarang, penggunaan plastik atau stirofoam salah satunya digunakan sebagai pembungkus atau wadah makanan.

Penggunaan zat yang memiliki kestabilan rendah seperti plastik atau stirofoam sebagai wadah makanan seperti mie instan sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Stirofoam merupakan jenis plastik yang mengandung polistirena. Senyawa polistirena diduga sebagai pemicu kanker atau karsinogen bila terkonsumsi dan menumpuk di dalam tubuh. Senyawa polistirena sulit terurai oleh tubuh dan lingkungan. Oleh karena itu senyawa polistirena juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Stirofoam mudah rusak jika terkena panas tinggi. Jika seseorang menyeduh mie instan dengan menggunakan wadah terbuat dari stirofoam dengan air panas, maka molekul polistirena akan tercampur dengan mie instan sehingga zat berbahaya tersebut masuk ke dalam tubuh. Bila senyawa polistirena terkonsumsi terus menerus maka kemungkingan besar tubuh akan terserang penyakit. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa jumlah senyawa polistirena, yang tercampur ke dalam makanan, tidak siginfikan sehingga tidak membahayakan.

Kereaktifan

Kereaktifan adalah kemampuan suatu zat bereaksi dengan zat lain secara spontan, seperti logam alkali dan alkali tanah yang reaktif terhadap air. Selain unsur alkali, unsur halogen juga termasuk unsur yang reaktif.

Unsur alkali terdapat pada golongan IA dan IIA pada tabel periodik unsur. Unsur alkali IA memiliki elektron valensi, dalam konfigurasi elektron, satu elektron yang mudah lepas sehingga menyebabkan unsur ini sangat reaktif, mudah terbakar dan sangat bereaksi dengan air. Unsur yang termasuk alkali IA yaitu hidrogen, litium, natrium, kalium, rubidium, cesium, fransium. Selain hidrogen, unsur alkali termasuk jenis logam.

Baca juga : Konfigurasi elektron dan manfaatnya

Adapun unsur alkali tanah termasuk golongan IIA dan mempunyai elektron valensi 2 elektron. Walaupun unsur ini reaktif tapi tidak sereaktif unsur alkali golongan IA. Logam alkali tanah dapat terbakar diudara bila dipanaskan. Unsur yang termasuk logam alkali tanah yaitu berilum, magnesium, kalsium, stronsium, barium dan radium.

Unsur alkali dan alkali tanah bila beraksi dengan air dapat menghasilkan gas hidrogen, oksida bila bereaksi dengan uap, hidroksida bila bereaksi denga air dingin, dan energi atau panas.

Apakah kamu pernah mendengar karbid? Karbid merupakan senyawa yang banyak digunakan dalam industri las karbid dan untuk mempercepat pematangan buah. Karbid berwujud padat seperti batu, dan berwarna keabu-abuan.

Rumus kimia karbid yaitu CaC₂. Berdasarkan rumus kimia tersebut dapat diketahui bahwa karbid disusun dari unsur kalsium yang termasuk logam alkali dan sangat reaktif dengan air.

Ketika karbid dimasukkan ke dalam air, karbid akan langsung bereaksi. Reaksi kimia antara karbid dan air menghasilkan gas asitilena (C₂H₂), kalsium hidroksida dan panas. Reaksi kimia antara karbid dan air dapat dilihat di bawah ini :

CaC₂ + 2H₂O →C₂H₂ + Ca(OH)₂

Gas asitilena yang dihasilkan dari reaksi karbid dan air, bersifat mudah terbakar sehingga dimanfaatkan dalam proses pengelasan logam.

Unsur lainnya yang reaktif yaitu unsur halogen. Unsur halogen termasuk unsur nonlogam dan golongan VIIA pada tabel periodik unsur. Unsur halogen memiliki 7 elektron valensi sehingga hanya membutuhkan 1 elektron saja agar unsur stabil. Oleh karena itu, unsur halogen sangat reaktif. Semua unsur halogen berupa molekul diatomik, beracun dan berwarna. Unsur halogen antara lain : fluor, chlor, brom, iodium, dan astatin.

Korosifitas

Korosifitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu zat untuk melarutkan struktur zat lain melalui reaksi kimia yang bersifat menghancurkan dan merusak. Zat yang memiliki korosifitas disebut zat korosif. Zat korosif mampu merusak zat dan jaringan tubuh juga menyebabkan karat pada logam. Zat korosif dapat berupa pengoksidasi, asam kuat dan basa kuat.

Penggunaan zat korosif biasanya untuk membunuh bakteri dan membersihkan noda pada lantai atau pakaian. Contoh zat korosif yang digunakan sebagai pembersih noda lantai adalah asam klorida (HCl).

Coba kamu lihat botol pembersih lantai di rumahmu, ada tidak tulisan HCl. Jika ada berarti, maka zat utama pembersih lantaimu adalah asam klorida. Senyawa HCl mampu mengikis kotoran, logam bahkan jaringan tubugmu. Oleh karena itu, senyawa HCl termasuk senyawa dengan korisifitas tinggi.

Ketika kamu menuangkan noda lantai dengan cairan pembersih lantai yang mengandung senyawa asam klorida, akan timbul perubahan warna dari cairan tersebut dan keluar gas dengan bau menyengat. Jadi sebaiknya gunakan sarung tangan agar tidak bersentuhan langsung dengan senyawa tersebut yang menyebabkan kulitmu mengalami iritasi atau luka dan masker agar gas tidak masuk ke saluran pernafasan.

Selain asam klorida, senyawa lainnya yang memiliki korosifitas tinggi adalah asam sulfat. Rumus kimia asam sulfat yaitu H₂SO₄. Senyawa asam sulfat biasanya digunakan sebagai cairan elektrolit dalam accu. Jadi berhati-hatilah menggunakan senyawa dengan korosifitas tinggi.

Sebenarnya masih ada lagi sifat-sifat kimia yang lainnya. Tetapi tidak disampaikan agar kamu dapat mencarinya sendiri. Suatu pengetahuan akan lebih berkesan bila kamu mau mencari, memahami dan menerapkannya melalui usaha sendiri. Coba kamu cari sendiri apa saja sifat-sifat kimia dari suatu zat selain dari yang disebutkan di atas.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, suatu zat mempunyai sifat yang unik dan menjadi ciri khas yang membuat zat tersebut berbeda dengan zat lainnya. Sifat zat tersebut dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu sifat fisika dan sifat kimia.

Sifat fisika suatu zat antara lain : densitas zat, kekerasan, daya hantar, viskositas, titik didih, titik beku, dan titik leleh. Sifat fisika tersebut dapat diukur dengan alat ukur.

Sifat kimia zat meliputi kestabilan zat, kerraktifan dan korosifitas zat. Sifat kimia dipebgaruhi oleh susunan unsur dan reaksi kimia zat tersebut dengan zat lain.

Pengetahuan mengenai sifat fisika dan kimia bermanfaat agar mengetahui bagaimana memanfaatkan zat-zat tersebut untuk kepentingan manusia. Selain itu, juga dapat mengetahui cara yang aman ketika menggunakan zat tersebut.

Sekian penjelasan artikel mengenai sifat fisika dan kimia zat. Mudah-mudahan menambah pengetahuan dan pengetahuan mengenai sifat fisika dan kimia suatu zat. Baca juga artikel lainnya di ipamts.com.

Bagikan juga artikel ini ke teman-temanmu agar mereka menperoleh manfaat dari artikel ini.

Bagikan artikel :

Translate

Pencarian