Bagaimana Spermatogenesis dan Oogenesis Terjadi - IPA MTs

 SPERMATOGENESIS DAN OOGENESIS

Bismillahirrahmanirrahiim

Selamat datang di IPA MTs

Ketika laki-laki dan wanita sudah baligh maka dia akan memperlihatkan ciri khusus atau yang disebut ciri kelamin primer. Ciri tersebut menunjukkan bahwa organ reproduksi laki-laki dan wanita sudah berfungsi dan dapat melaksanakan fungsinya. Pada laki-laki, ciri kelamin primer ditandai dengan diproduksinya sel sperma yang berfungsi membuahi sel telur. Pada wanita ditandai dengan diproduksinya sel telur (ovum) yang akan dibuahi oleh sel sperma. Ketika sel sperma dan sel telur bersatu akan membantuk zigot yang akan berkembang menjadi janin lalu lahir sebagai bayi sehingga laki-laki dan wanita tersebut akan dipanggil ayah dan ibu karena memiliki anak.

Sel sperma diproduksi oleh organ testis tepatnya di tubulus seminiferus melalui proses spermatogenesis dan sel telur diproduksi di dalam ovarium melalui proses oogenesis. Jumlah sel sperma yang dihasilkan dalam satu spermatogenesis adalah 4 spermatid. Adapun jumlah sel telur yang dihasilkan dalam proses oogenesis adalah satu buah.

Artikel ini akan menjelaskan mengenai proses spermatogensis yang terjadi di dalam tubulus seminiferus dan oogenesis yang terjadi di dalam ovarium. Baca dengan tenang dan relaks, Ok. Mudah-mudahan kalian mendapatkan tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang spermatogensis dan oogenesis.

Spermatogenesis

Spermatogenesis adalah proses pembentukan sel sperma dan merupakan ciri kelamin primer dari laki-laki. Proses ini terjadi di dalam testis tepatnya di dalam tubulus seminiferus. Hormon yang mempengaruhi spermatogenesis adalah hormon testosterone. Perhatikan gambar di bawah ini, agar kalian memahami spermatogenesis.

pembentukan sel sperma atau spermatogenesis, spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid
Proses Spermatogenesis di dalam Tubulus Seminiferus

Berdasarkan gambar di atas, Spermatogenesis diawali dari sel induk spermatogonium yang bersifat diploid (2n) membelah secara mitosis menjadi primary spermatocyte (spermatosit primer). Pembelahan mitosis ini tidak mengurangi jumlah kromosom di dalam spermatosit primer, sehingga jumlah kromosomnya tetap diploid (2n).

Kemudian spermatosit primer membelah menjadi spermatosit sekunder (secondary spermatocyte). Pada pembelahan ini terjadi pembelahan meiosis tahap I, dan mengurangi jumlah kromosom sampai setengahnya, sehingga spermatosit sekunder bersifat haploid (n). Hal ini karena terjadi pemisahan kromosom homolog sehingga dihasilkan dua sel haploid dari satu sel diploid.

Selanjutnya, spermatosit sekunder akan membelah menjadi spermatid. Pembelahan sel termasuk pembelahan meiosis tahap II. Pada pembelahan ini tidak terjadi pengurangan kromosom, sehingga sifatnya sama dengan induknya yaitu haploid. Pada pembelahan meiosis tahap II terjadi pemisahan kromatid dari kromosom haploid sehingga tidak terjadi pengurangan kromosom seperti meiosis tahap I.

Tahap berikutnya dari spermatogenesis adalah diferensiasi dari spermatid. Pada tahap ini, terjadi perubahan dan pematangan spermatid menjadi sperma. Jumlah sperma yang dihasilkan berjumlah 4 sel yang sifatnya haploid (n). 

Selama pembentukan sel sperma terjadi pembelahan sel. Pembelahan sel terjadi melalui dua cara yaitu pembelahan mitosis dan pembelahan meiosis. Mitosis terjadi saat spermatogonium membelah menjadi spermatosit primer dimana jumlah kromosom di dalam spermatosit primer sama dengan spertogonium. Pembelahan meiosis terjadi sebanyak dua kali yaitu saat spermatosit primer membelah menjadi spermatosit sekunder (meiosis I) dan saat spermatosit sekunder membelah menjadi spermatid (meiosis II). Jumlah kromosom spermatosit sekunder adalah setengah dari kromosom spermatosit primer karena terjadi reduksi kromosom saat meiosis I. Adapun pada meiosis II tidak terjadi pengurangan kromosom sehingga jumlah kromosom spermatid sama dengan spermatosit sekunder.

Baca juga artikel yang berhubungan:

Struktur dan Pembelahan Sel Manusia

Oogenensis

Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur di dalam ovarium. Hormon yang mempengaruhi oogenesis adalah hormon estrogen dan progesteron. Tahapan oogenesis dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

pembentukan sel telur atau oogenesis, oogonium, oosit primer, oosit sekunder, ootid, badan polar, ovum
Proses Oogenesis di dalam Ovarium

Berdasarkan gambar di atas, oogenesis dimulai dari oogonium yang sifatnya diploid (2n) akan membelah menjadi oosit primer secara mitosis. Pembelahan mitosis membuat jumlah kromsosm oosit primer sama dengan oogonium sehingga sifatnya diploid (2n).

Oosit primer yang diploid (2n) akan membelah menjadi oosit sekunder dan polosit (badan polar) melalui tahap meiosis I. Pada tahap meiosis I terjadi reduksi kromosom menjadi setengah dari kromosom induk, sehingga jumlah kromosom pada oosit sekunder dan polosit menjadi haploid (n).

Oosit sekunder akan membelah menjadi ootid dan badan polar, sedangkan polosit akan membelah menjadi badan polar. Pembelahan sel ini terjadi tahap pembelahan meiosis  II. Tahap meiosis II terjadi pemisahan kromatid dari kromosomnya sehingga tidak terjadi pengurangan kromosom, sehingga sifatnya sama dengan oosit sekunder yaitu haploid (n).

Kemudian ootid akan mengalamai diferensiasi menjadi ovum. Pada oogenesis dihasilkan satu sel telur (ovum) dan tiga polar bodi. Ovum itulah yang dapat dibuahi oleh sel sperma

Penutup

Sekarang kalian sudah mengetahui bahwa sel sperma laki-laki berasal dari proses spermatogenesis yang terjadi di dalam tubulus seminiferus. Tubulus seminiferus ini berjumlah jutaan di dalam testis. Adapun sel telur di peroleh melalui proses oogenesis yang terjadi di dalam ovarium. Ovarium berjumlah sepasang di dalam organ reproduksi wanita.

Baca juga artikel yang berhubungan:

Sistem Organ Reproduksi Manusia : Definisi, Struktur dan Fungsi

Mudah-mudahan penjelasan singkat ini bermanfaat bagi kalian. Kalian dapat membagikan artikel ini melalui ikon berbagi di bawah artikel ini.

Cari artikel di situs IPA MTs

Terjemahkan Artikel

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Subscribe